Kalau Memang Hanya Engkau Yang Benar.

people-21

Wahai anakku

Mari berpikir dengan akal sehat

Mari berpikir dengan akal waras

Mari berpikir dengan hati yang jernih

Kalau memang hanya golongan sunni yang benar

Apakah golongan lain harus kita musuhi dan kita jauhi?

Padahal islam menganjurkan kepada kita

Agar selalu menyambung tali silatur rahmi

Wahai anakku

Kalau memang hanya golongan syi’ah yang benar

Apakah golongan lain harus kita benci dan caci maki?

Padahal islam mengajarkan kepada kita

Agar selalu tawaashou bil haqqi wa tawaashou bis shobri

Wahai anakku

Kalau memang hanya golonganmu yang benar

Apakah golongan lain harus kita perangi?

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita

Bahwa kita dijadikan berbeda agar untuk saling mengenal

Wahai anakku

Kalau memang hanya golonganmu yang benar

Apakah surga disediakan hanya untuk golonganmu saja?

Padahal Allah telah berfirman

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh

Baginya surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya

Itulah kebahagian yang amat besar

Wahai anakku

Mari berpikir dengan akal sehat

Mari berpikir dengan akal waras

Mari berpikir dengan hati yang jernih

Mari menjadi golongan orang yang beriman dan beramal sholeh.

2400 Tahun Hidup Di Dasar Laut Tetapi Tidak Merasa Bosan.

160841_large

Al Yafi’I pernah bercerita, sesungguhnya Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman Bin Dawud AS agar keluar ke tepi laut , di sana engkau akan melihat sesutau yang mengagumkan.

Lantas Nabi Sulaiman AS bersama jin dan manusia keluar, ketika sampai di tepi laut, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman berkata kepada Ifrit: “Hendaklah kamu menyelam ke dasar lauit ini, dan nanti kembalilah dengan membawa sesuatu yang kamu jumpai di dalamnya.” Si Ifrit pun menyelam dan kembali sececah kemudian. Lalu Ifrit berkata: “Wahai Nabi Sulaiman, sesungguhnya aku telah menyelam ke dalam dengan perjalanan yang amat jauh sekitar sekian……… Sungguhpun demikian aku masih belum sampai ke dasarnya dan aku juga tidak melihat sesuatu yang menarik.”

Nabi Sulaiman memerintah kepada Ifrit yang lain: “Berangkatlah kamu untuk meyelami laut ini dan nanti bawalah sesuatu yang kamu jumpai, meskipun sekedar pengalaman yang telah kamu lihat.” Sececah kemudian, Ifritpun kembali dan berkata sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ifrit yang pertama tadi, hanya saja Ifrit yang terakhir ini telah menyelam dua kali.

Lantas Nabi Sulaiman berkata kepada Ashif bin Burkhiya, yaitu menteri Nabi Sulaiman yang telah disebut di dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengerti ilmu kitab. Akhirnya Nabi Sulaiman dibawakan sebuah Kubbah dari kapur putih yang mempunyai empat pintu. Sebuah pintu terbuat dari intan, sebuah pintu yang terbuat dari yaqut, sebuah pintu yang terbuat dari mutiara, dan sebuah pintu yang terbuat dari Zabarzad yang hijau.

Seluruh pintu itu terbuka, namun setetes airpun tidak ada yang masuk ke dalamnya, padahal kubbah itu berada di laut yang paling dalam, sekitar perjalan Ifrit yang pertama tiga kali. Lantas kubah itu diletakkan di depan Nabi Sulaiman, tahu-tahu di dalamnya ada seorang pemuda yang berpakaian baik, bersih sedang menjalankan shalat. Nabi Sulaman masuk ke dalamnya dan mengucapkan salam kepadanya, lalu berkata kepada pemuda itu: “Apakah yang mebuatmu bisa bertempat tinggal di dasar laut ini?” Pemuda itu menjawab: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya ayahku itu seorang yang lumpuh, sedangkan ibuku tuna netra, aku berusaha untuk melayaninya selama tujuh puluh tahun.”

Ketika ibuku akan meninggal dunia, dia berdo’a: “Ya Allah berilah anakku usia yang panjang untuk datang kepadaMu.” Begitu juga ketika ayahku akan meninggal dunia, dia berdo’a: “Ya Allah berilah anakku kesempatan untuk beribadah kepadaMu di suatu tempat yang sekiranya tidak bisa dilalui oleh setan.”

Lantas aku keluar ke tepi laut ini setelah aku mengebumikan mayat ayah dan ibuku, lantas aku melihat kubbah ini di depanku. Aku masuk ke dalamnya untuk melihat keindahan di dalamnya. Akhirnya ada malaikat yang datang padaku dan membawanya bersamaku ke dalam laut ini. Lantas Nabi Sulaiman bertanya: “ Kira-kira kapan kamu sampai ke tepi pantai ini?” Pemuda itu menjawab: “Kira-kira pada jaman Nabi Ibrahim Al Kholil.”

Nabi Sulaiman mengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim yang bisa diperkirakan dua ribu empat ratus tahun yang silam. Sungguhpun demikian, pemuda itu masih tetap muda tidak ada satupun uban di rambut kepalanya.

Nabi Sulaiman bertanya: “Bagaimanakah makanan dan minumanmu?” Pemuda itu menjawab: “Pada tiap hari ada seekor burung hijau yang membawa sesuatu yang kuning di patuknya seperti kepala manusia, lalu aku memakannya. Aku bisa merasakan segala kenikmatan di dnia. Dengan memakannya aku tidak terasa laar dan haus, panas dingin dan tidurpun aku tidak ada kedinginan lagi, aku tidak terasa susah, tidak jemu.”

Lantas Nabi Sulaiman berkata: “Apakah kamu senang bersama kami?” Pemuda itu menjawab: “Kembalikan aku ke tempatku wahai Nabi Allah.” Nabi Sulaiman berkata kepada Ashif: “Wahai Ashif kembalikan ke tempatnya.” Nabi Sulaiman menoleh dan berkata: “Lihatlah, bagaimana Allah mengabulkan do’a kedua orang tua lelaki ini. Oleh sebab itu, aku peringatkan kepadamu jangan sampai durhaka kepada kedua orang tua.”

Golongan Yang Masuk Surga

bismillah1Assalaamu alaikum warohmatullaahi wa barokaatuh.

Bismillaahir Rohmaanir Rohiem……
Alhamdulillaahi Robbil Alamien.
Wassholaatu wassalaamu alaa asrofil anbiyaa’i wal mursalien
wa alaa alihi wa ashaabihi ajma’ien.

Rasulullah Saw bersabda:
‘’ Sesungguhnya pengikut kedua kitab (Yahudi dan Nashrani) dalam hal agama mereka terpecahbelah menjadi 72 aliran. Dan sungguh Ummat Islam ini pun akan terpecah menjadi 73 aliran. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-jama’ah.’’ (HR. Abu Daud dan di sahihkan oleh Al-Albani dalam catatan kakinya atas syarah Ath-Thahawiyah, hlm. 578, Al- Maktabul Islami)
Dalam suatu Riwayat lain disebutkan: ‘’Para Sahabat bertanya ‘’Siapakah golongan yang selamat itu, wahai Rasulullah….? Beliau menjawab , yaitu orang yang mengikuti jalanku dan para Sahabatku.’’ (HR. Turmudzi)
(Lafal asli dalam bahasa arab mohon dicari sendiri).

Dari terjemahan hadits diatas dapat kita ambil intisarinya, yaitu:

1. Umat Islam terpecah menjadi 73 golongan (firqoh).
2. Semua golongan, yaitu ke 73 golongan itu masuk neraka, kecuali satu (tanpa ada kata tambahan “golongan”).
3. Satu yang masuk surga menurut Imam Abu Daud disebut “Al Jamaah.”
4. Satu yang masuk surga menurut Imam Turmudzi yaitu “orang yang mengikuti jalanku dan para sahabatku.

Dalam versi lain, ada hadits yang menyebutkan bahwa 72 golongan masuk neraka sedang 1 golongan masuk surga.

Saya tidak mau menggunakan versi ini dg alasan :

1. Ada peluang bagi masing-masing untuk membenarkan golongannya sendiri.
2. Ada kemungkinan, demi kepentingan golongan, merubah kata “semuanya” menjadi kata “72 golongan” (bila hadits itu hanya satu versi)
3. Bila memang ada 2 versi hadits, maka hadits yg pertama yg mendekati kebenaran. (alasannya kapan saja)

Dengan berdasar pada hadits yang pertama, tugas kita sekarang adalah mencari siapa satu yang tidak masuk neraka itu, dengan maksud agar kita termasuk dalam katagori itu. Padahal sekarang ini sudah banyak bermunculan firqoh-firqoh atau golongan-golongan yang mengaku dirinya yang paling benar dan mengaku golongannya lah yang masuk surga. Hampir semua golongan mengaku golongannya lah yang benar. Akibatnya orang awam menjadi bingung, bahkan tidak sekedar bingung, terkadang sampai menimbulkan konflik horizontal, meski tidak sampai terjadi konflik fisik, tetapi terbatas hanya pada perdebatan saja.

Sebelum kita menemukan siapa yang satu itu, marilah kita kenali ciri-ciri yang termasuk 73 golongan itu. Dengan mengenali ciri-ciri dari yang 73 golongan itu, insya’allah kita bisa menemukan satu yang tidak masuk neraka.

Marilah kita cermati firman Allah dalam Surat Al Mu’minun ayat 53 berikut ini :

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”

Dalam ayat tersebut Allah telah menyebutkan secara gamblang ciri-ciri dari suatu golongan, yaitu :

1. Siapa yang merasa bangga dengan golongannya, berarti dia telah membentuk satu golongan.
2. Siapa yang mengaku bahwa golongannya adalah golongan yang paling benar, berarti dia merasa bangga dengan golongannya dan itu berarti dia telah memisahkan dirinya dari golongan yang lain dan berarti pula dia telah membentuk satu golongan.

Jadi setiap golongan yang mengaku bahwa golongannya adalah golongan yang paling benar dan golongannya lah yang nanti pasti masuk surga, tentu akan memunculkan tanda tanya yang amat besar dalam benak kita. BENARKAH?

Setelah kita mengenali ciri-ciri sebuah golongan, sekarang marilah kita mengerucut pada kata “kecuali satu”.

Dari uraian diatas, bisa kita buatkan ciri-ciri yang bisa dikecualikan dari ke 73 golongan tadi, yaitu :

Dia adalah yang Ahli Jamaah (Al Jamaah), yaitu mereka Umat Islam yang masih utuh, yang masih belum terpecah belah. Mereka yang mengaku sebagai umat islam yang tanpa diberi embel-embel Islam ini kek atau Islam itu kek.
Dan Islam yang masih utuh itu adalah islam yang belum terpecah belah, islam yang tidak memakai embel-embel ini da itu.
Kata Al Jamaah dalam hadits tadi, yang berarti berkumpul atau tidak memisahkan diri dari yang lain.
Dengan mengaku dirinya sebagai umat islam, maka disini sama sekali tidak terlihat adanya fanatisme golongan, maka berarti pula tak ada golongan yang bisa dibangga-banggakan.
Dengan mengaku dirinya sebagai umat islam yang tanpa diembel-embeli lagi maka dia bisa berkumpul (berjamaah) dengan golongan mana saja. Soal golongan itu mau menerima atau menolaknya, itu adalah tanggung jawab yang menerima atauyang menolaknya.

Jadi kalau boleh disebut golongan, maka satu golongan yang tidak masuk dalam katagori 73 golongan itu adalah golongan Islam yang belum terpecah belah alias golongan islam yang masih utuh.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan bagi keluarga kita, amien…..3x….yaa Robbal alamien….

billaahit Taufiq wal Hidayah
wassalaamu alaikum warohmatullaahi wa barokaatuh.

Segeralah Melakukan Amal Salih.

pretty-flower-2Abu Hurairah r.a. bekata: Bersabda Nabi SAW: “Segeralah melakukan amal salih, sebab akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu seorang pada pagi hari mu’min, tiba=tiba pada sore hari berbalik kafir, menukar agama karena sedikit keuntungan dunia yang sederhana. (Muslim)
Selintas, hadits ini tidak banyak memberikan pelajaran kepada kita. Seolah-olah tidak ada korelasi positif antara melakukan amal salih dengan tiba-tiba berubahnya orang mu’min menjadi kafir. Tetapi, apabila kita mau merenungkannya sejenak, kemudian kita kaitkan dengan fenomena kehidupan yang terjadi di sekeliling kita, ternyata hadits ini mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi kita dan keluarga.
Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu tentang pengertian amal salih. Tetapi pengertian amal salih disini bukan bersifat final. Siapapun boleh memberikan kritisi, sekrianya pengertian amal salih ini, menurutnya, keliru atau kurang sempurna. Amal salih adalah perbuatan sunah yang kita lakukan setelah kita memenuhi kewajiban kita kepada Allah yang berupa sholat fardhlu (sembahyang wajib) atau kewajiban yang lain ketika kewajiban itu sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengerjakannya, misalnya puasa romadhan atau mengeluarkan zakat fitrah. Dengan pengertian ini, tentu timbul pertanyaan dalam hati kita. Bagaimanakah keabsahan amalan sunah yang kita lakukan, padahal kita belum atau bahkan tidak mengerjakan amalan yang wajib. Misalnya mengerjakan sholat dhuha’ padahal tidak mengerjakan sholat subuh. Atau mengerjakan sholat tarawih padahal tidak puasa. Atau berinfaq padahal tidak membayar zakat fitrah. Untuk lebih amannya saya mengatakan subhat/samar tentang keabsahan amalan semacam ini. Karena yang berhak menentukan sah atau tidaknya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Orang-orang Mu’min yang Wira’i (berhati-hati) tentu mereka menganggap bahwa amalan ini tidak sah untuk dirinya sendiri.
Berikutnya mari kita telaah tentang kalimat orang mu’min yang menjadi kafir dengan tiba-tiba. Terhadap orang yang sudah jelas kekafirannya, tentu kita sudah menaruh kewaspadaan penuh. Jauh-jauh kita sudah tidak memberikan kepercayaan tentang apapun terhadapnya. Tetapi terhadap orang mu’min, mungkinkah kita memperlakukannya seperti itu. Rasa-rasanya tidaklah patut bagi kita memperlakukan orang mu’min sebagaimana kita memperlakukan orang kafir. Terhadap orang mu’min tentu kita sudah menaruh kepercayaan penuh kepadanya. Tidak perlu ada rasa curiga dan ragu lagi. Bahaya baru akan terjadi ketika orang mu’min tersebut tiba-tiba berubah menjadi kafir. Padahal saat itu tentu kita sedang tidak menaruh kercurigaan apapun terhadapnya. Saat itu pun kita sedang tidak mempunyai kekhawatiran akan terjadinya bahaya yang ditimbulkannya. Sering kita lihat di layar kaca atau kita baca di media cetak, bahwa kebanyakan pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang dekat dengan kita. Pelaku kejahatan terhadap anak-anak adalah orang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Agar peristiwa-peristiwa menyedihkan dan memilukan itu tidak menimpa keluarga kita, maka disini amal salih kita yang sangat berperan. Karena ketika kita sudah melakukan amal salih, maka Allah SWT akan selalu menyertai, menolong dan menghindarkan kita dari peristiwa-peristiwa menyedihkan yang tidak pernah kita duga bakal menimpa keluarga kita.
Wahai anakku, janganlah engkau menunda-nunda lagi untuk mengerjakan amal salih. Musibah dan bencana selalu siap menimpa kita, dimanapun kita berada. Musibah dan bencana bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Hanya dengan amal salih saja kita bisa selamat dari ancaman musibah dan bencana itu, amien…….

Birrul Walidain Lebih Baik Daripada Jihad Fisabilillah.

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang amalan apakah yang paling disukai oleh Allah SWT, Beliau menjawab: “Sholat pada waktunya.” Kemudian apa lagi yaa Rasulullah?, Beliau menjawab: “Birrul walidain.” Kemudian apalagi yaa Rasulullah?, Beliau menjawab: “Jihad fisabilillah.”

Kalau kita mau memperhatikan hadits ini dengan cermat, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa amalan yang paling disukai oleh Allah yang pertama adalah sholat pada waktunya, kemudian berbuat baik kepada kedua orangtua, baru kemudian yang terakhir adalah jihad fisabilillah.

Oleh karena Birrul Walidain itu lebih baik daripada Jihad fisabilillah, sudah barang tentu pahalanya juga lebih baik. Untuk itu, di bawah ini, saya sajikan dua buah hikayat. Hikayat yang pertama berkisah tentang pahala Jihad fisabilillah dan hikayat yang kedua berkisah tentang pahala Birrul Walidain. Dengan menyajikan dua hikayat ini, diharapkan para pengunjung Blog saya ini bisa memperolah gambaran yang jelas tentang keduanya.

Hikayat 1 tentang pahala Jihad fisabilillah:

Al Yafi’i pernah bercerita dari Syech Abdul Wahid bin Zaid. Pada suatu hari kami duduk di majlis kami sebagaimana biasanya, kami telah bersiap untuk pergi berperang. Sungguh aku telah memberikan perintah kepada sahabat-sahabat untuk mendengarkan suatu ayat yang akan dibacakan di muka mereka. Ada seorang lelaki yang membacakan ayat di majlis kami. “Sesungguhnya Allah telah membeli orang-orang mu’min diri dan harta benda mereka, sebab sesungguhnya mereka akan memeroleh surga.”

Lantas ada seorang anak yang masih berusia limabelas tahun atau sederajatnya berdiri, padahal ayahnya sudah meninggal dunia, namun ditinggali harta benda yang banyak, lalu berkata: “Wahai Abdul Wahid bin Zaid, sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta benda orang-orang mu’min, sebab sesungguhnya mereka akan memeroleh surga?” Aku berkata: “Ya wahai anakku yang tercinta.” Dia berkata kepadaku: “Aku telah menyaksikan kepadamu bahwa aku telah menjual diriku dan harta bendaku kepada Allah agar aku memeroleh surga.” Aku (Abdul Wahid) berkata: “Sesungguhnya tikaman pedang yang tajam lebih berat daripada itu, sedang kulihat kamu masih kecil. Sesungguhnya aku khawatir bila kamu nanti tidak sabar dan kamu tidak mampu menghadapi resiko peperangan.” Dia berkata: “ Wahai Abdul Wahid, aku sudah baiat kepada Allah agar aku mendapatkan surgaNya lantas aku tidak mampu? Aku menyaksikan kepada Allah baiatku ini.”

Abdul Wahid berkata: “Sesungguhnya kami merasa terkalahkan dengan keimanan yang dimiliki oleh anak semacam ini, lantas kami berkata di dalam hati: “Seorang anak berakal sedang kami masih kurang berakal.” Anak tersebut keluar dengan membawa seluruh harta bendanya untuk disumbangkan dalam perjuangan kecuali kuda, senjata dan bekalnya belaka.

Ketika hari yang dijanjikan untuk berangkat perang telah tiba, maka anak itu permulaan orang yang tampak pada kami, lalu berkata: “Assalamu alaikum wahai Abdul Wahid,” lalu aku menjawab salamnya dan kukatakan: “Sungguh akad jual belimu telah beruntung banyak.” Kemudian kami berjalan menuju medan tempur, sungguhpun demikian ternyata anak itu berpuasa di waktu siang dan malampun melakukan shalat. Dengan hati yang gembira dia melayani kami, memelihara binatang kami dan menjaga kami bila kami tertidur. Lantas sampailah perjalanan kami ke tanah Romawi.

Ketika kami sudah sampai di tanah Romawi, lantas pemuda itu menghadap kepada kami seraya berkata: “Sungguh rinduku telah lama mencekam kepada Al Aina Al Mardhiyah.” Lantas beberapa temanku berkata: “Barangkali pemuda itu tergoda oleh setan atau kemasukan jin atau mungkin akalnya sudah tidak sadar lagi.” Aku berkata: “Wahai anakku yang tercinta, apakah maksud Al Aina Al Mardhiyah itu?” Dia menjawab: Sesungguhnya aku pernah tidak sadar, lantas aku melihat seolah-olah ada orang datang kepadaku, lalu berkata kepadaku: “Pergilah kamu untuk menjumpai Al Aina Al Mardhiyah, lantas aku diajak berkunjung ke pertamanan yang terdapat sungai yang airnya tidak berubah. Kulihat di tepi sungai itu ada beberapa perempuan yang mengenakan pakaian dan perhiasan yang menarik, sungguh aku sulit melukiskan kecantikan dan daya tarik perhiasan dan pakaiannya.

Ketika mereka melihat aku, langsung mereka berkata: “Ini suami Al Aina Al Mardhiyah, lalu aku berkata: “assalamu alaikum, apakah ada di kalangan kamu Al Ana Al Mardhiyah?” Lalu mereka menjawab: “Kami hanya sebagai pelayannya, oleh karena itu berjalanlah terus kesana.”

Akupun berjalan menelusuri lorong-lorong di mukaku, lalu aku berjumpa dengan sungai dari susu yang putih bersih, rasanya pun tidak berubah. Di sana terdapat pertamanan yang penuh dengan dekorasi yang memikat hati dan beberapa wanita yang cantik. Ketika aku melihat mereka, akupun tertarik lantaran kecantikannya sulit kulukiskan. Ketika mereka melihat kepadaku, langsung mereka menyambutku dengan hati yang gembira, mereka berkata: “ Inilah suami Al Aina Al Mardhiyah.” Aku mengucapkan salam kepada mereka dan bertanya: Apakah diantara kamu  ada Al Aina Al Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku, dan memanggilku dengan kata wahai waliyullah, kami hanya sebagai pembantunya, oleh karena itu berjalanlah terus ke depan. Lantas akupun berjalan ke depan, tahu-tahu aku berjumpa dengan sungai dari khomer dan di tepinya ada beberapa wanita yang menarik.

Dengan daya pikat masing-masing  wanita itu, akupun lupa terhadap wanita yang sebelumnya. Akupun mengucapkan salam untk mereka, aku bertanya: “Apakah di kalangan anda ini ada Al Aina Al Mardhiyah?” Merakapun menjawab: “Tidak, kami hanya sebagai pembantunya. Oleh karena itu berjalanlah terus.”  Lalu akupun bertemu dengan sungai dari madu yang jernih, di tepinya terdapat gadis yang cantik jelita membuat aku lupa terhadap gadis sebelumnya, rupanya cahaya dan kemolekan mereka yang lebih memikat hatiku. Lalu akupun mengucapkan salam kepada mereka, aku bertanya: “Apakah di antara kalian ada Al Aina Al Mardhiyah?” Lalu mereka berkata: “Wahai waliyullah, kami sekedar pelayannya. Oleh karena itu berjalanlah terus kedepan.” Akupun berjalan kedepan, lalu aku berjumpa dengan tenda dari mutiara yang putih bersih, di depan pintunya ada gadis yang mengenakan perhiasan dan pakaian yang sulit dilukiskan keindahannya. Ketika itu dia melihat aku, lalu menyambutku dengan penuh kegembiaraan, lalu memanggil: “Wahai Al Aina Al Mardhiyah, inlah suamimu telah datang.”

Pemuda itu berkata: “Lantas aku masuk ke tenda, tahu-tahu dia lagi duduk di atas ranjang dari emas, berhias dengan mutiara dan yaqut. Ketika aku melihatnya, akupun tertarik. Dia berkata: “Selamat datang wahai wali Allah, sungguh engkau akan datang kepada kami sebentar lagi. Lalu akupun ingin merangkulnya, lantas dia menjawab: “Tenang saja, kamu masih belum diperbolehkan merangkulku, sebab engkau masih hidup di dunia, kamu akan berbuka pada kami malam ini.”

Pemuda itu berkata: “Lalu aku bangun, wahai Abdul Wahid sungguh aku tidak tahan lagi hidup di dunia, aku ingin berjumpa dengan Al Aina Al Mardhiyah.”

Abdul Wahid berkata: “Pemuda itu masih belum memutuskan pembicaraanya, lantas ada pasukan musuh yang menyerang kami. Ternyata pemuda itu tak tahan lagi untuk tinggal diam, lalu dia menyerang ke tengah musuh dan bisa membunuh sembilan orang di antara mereka, dan dia sendiri termasuk korban yang kesepuluh.”

Aku (Abdul Wahid) berjalan-jalan bertemu dengan tubuh pemuda itu yang lagi berlumuran darah segar, dia malah tetawa atas penderitaannya, lalu meninggalah. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kami atas kisah pemuda itu.

 

Hikayat 2 tentang pahala Birrul Walidain:

Al Yafi’I pernah bercerita, sesungguhnya Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi memberikan wahyu kepada Nabi Sulaiman Bin Dawud AS agar  keluar ke tepi laut , di sana engkau akan melihat sesutau yang mengagumkan.

Lantas Nabi Sulaiman AS bersama jin dan manusia keluar, ketika sampai di tepi laut, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata tidak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, lantas Nabi Sulaiman berkata kepada Ifrit: “Hendaklah kamu menyelam ke dasar lauit ini, dan nanti kembalilah dengan membawa sesuatu yang kamu jumpai di dalamnya.” Si Ifrit pun menyelam dan kembali sececah kemudian. Lalu Ifrit berkata: “Wahai Nabi Sulaiman, sesungguhnya aku telah menyelam ke dalam dengan perjalanan yang amat jauh sekitar sekian……… Sungguhpun demikian aku masih belum sampai ke dasarnya dan aku juga tidak melihat sesuatu yang menarik.”

Nabi Sulaiman memerintah kepada Ifrit yang lain: “Berangkatlah kamu untuk meyelami laut ini dan nanti bawalah sesuatu yang kamu jumpai, meskipun sekedar pengalaman yang telah kamu lihat.” Sececah kemudian, Ifritpun kembali dan berkata sebagaimana apa yang dikatakan oleh Ifrit yang pertama tadi, hanya saja Ifrit yang terakhir ini telah menyelam dua kali.

Lantas Nabi Sulaiman berkata kepada Ashif bin Burkhiya, yaitu menteri Nabi Sulaiman yang telah disebut di dalam Al Qur’an sebagai orang yang mengerti ilmu kitab. Akhirnya Nabi Sulaiman dibawakan sebuah Kubbah dari kapur putih yang mempunyai empat pintu. Sebuah pintu terbuat dari intan, sebuah pintu yang terbuat dari yaqut, sebuah pintu yang terbuat dari mutiara, dan sebuah pintu yang terbuat dari Zabarzad yang hijau.

Seluruh pintu itu terbuka, namun setetes airpun tidak ada yang masuk ke dalamnya, padahal kubbah itu berada di laut yang paling dalam, sekitar perjalan Ifrit yang pertama tiga kali. Lantas kubah itu diletakkan di depan Nabi Sulaiman, tahu-tahu di dalamnya ada seorang pemuda yang berpakaian baik, bersih sedang menjalankan shalat. Nabi Sulaman masuk ke dalamnya dan  mengucapkan salam kepadanya, lalu berkata kepada pemuda itu: “Apakah yang mebuatmu bisa bertempat tinggal di dasar laut ini?” Pemuda itu menjawab: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya ayahku itu seorang yang lumpuh, sedangkan ibuku tuna netra, aku berusaha untuk melayaninya selama tujuh puluh tahun.”

Ketika ibuku akan meninggal dunia, dia berdo’a: “Ya Allah berilah anakku usia yang panjang untuk datang kepadaMu.” Begitu juga ketika ayahku akan meninggal dunia, dia berdo’a: “Ya Allah berilah anakku kesempatan untuk beribadah kepadaMu di suatu tempat yang sekiranya tidak bisa dilalui oleh setan.”

Lantas aku keluar ke tepi laut ini setelah aku mengebumikan mayat ayah dan ibuku, lantas aku melihat kubbah ini di depanku. Aku masuk ke dalamnya untuk melihat keindahan di dalamnya. Akhirnya ada malaikat yang datang padaku dan membawanya bersamaku ke dalam laut ini. Lantas Nabi Sulaiman bertanya: “ Kira-kira kapan kamu sampai ke tepi pantai ini?” Pemuda itu menjawab: “Kira-kira pada jaman Nabi Ibrahim Al Kholil.”

 Nabi Sulaiman mengingat tentang sejarah Nabi Ibrahim yang bisa diperkirakan dua ribu empat ratus tahun yang silam. Sungguhpun demikian, pemuda itu masih tetap muda tidak ada satupun uban di rambut kepalanya.

Nabi Sulaiman bertanya: “Bagaimanakah makanan dan minumanmu?” Pemuda itu menjawab: “Pada tiap hari ada seekor burung hijau yang membawa sesuatu yang kuning di patuknya seperti kepala manusia, lalu aku memakannya. Aku bisa merasakan segala kenikmatan di dnia. Dengan memakannya aku tidak terasa laar dan haus, panas dingin dan tidurpun aku tidak ada kedinginan lagi, aku tidak terasa susah, tidak jemu.”

Lantas Nabi Sulaiman berkata: “Apakah kamu senang bersama kami?” Pemuda itu menjawab: “Kembalikan aku ke tempatku wahai Nabi Allah.” Nabi Sulaiman berkata kepada Ashif: “Wahai Ashif kembalikan ke tempatnya.” Nabi Sulaiman menoleh dan berkata: “Lihatlah, bagaimana Allah mengabulkan do’a kedua orang tua lelaki ini. Oleh sebab itu, aku peringatkan kepadamu jangan sampai durhaka kepada kedua orang tua.”

Makna Keberhasilan.

aglaonemaredsumatraWahai anakku,

Keberhasilan adalah sebuah kata benda abstrak. Oleh karena itu maka untuk membuat batasan-batasan yang jelas seperti apakah suatu keberhasilan, tentunya agak sulit juga. Setiap orang akan memiliki batasan sendiri sesuai dengan persepsi mereka masing-masing. Sebagian besar orang tua merasa dirinya berhasil apabila kesemua anak-anaknya telah berhasil meraih sebuah gelar kesarjanaan, walaupun ada diantara anak-anaknya yang tak kunjung memperoleh pekerjaan yang layak yang sesuai dengan gelar kesarjanaan yang diraihnya. Sebagian orang tua yang lain merasa berhasil apabila kesemua anak-anaknya telah berumahtangga, walaupun ada diantara anak-anaknya itu yang merasa terpaksa berumahtangga hanya karena ingin menunjukkan darma baktinya kepada kedua orangtuanya.

Wahai anakku,

Sementara itu banyak orang yang merasa sudah berhasil, apabila dia telah mampu meraih sesuatu yang selama ini dicita-citakan, atau dia mampu memperoleh suatu barang yang selama ini sangat diiam-idamkan, atau sekarang dia telah menduduki suatu posisi teringgi dalam suatu kantor ataupun wilayah. Bahkan, tidak jarang, untuk itu merekapun kemudian mengadakan pesta besar-besaran dan mengundang semua teman-temannya untuk turut serta memberikan apresiasi atas keberhasilannya itu. Sedangkan apabila mereka belum berhasil atau gagal, mereka menghibur dirinya dengan mengucapkan bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Wahai anakku,

Benarkah demikian? Apakah orangtua yang telah bersusah payah berusaha sekuat tenaga agar semua anak-anaknya kelak menyandang sebuah gelar kesarjanaan dan ternyata itu telah menjadi kenyataan, atau orangtua yang kesemua anak-anaknya telah berumahtangga semua, ataukah orang-orang yang telah mampu mewujudkan cita-citanya, ataukah orang-orang yang bisa mencapai posisi tertinggi dalam suatu pemerintahan itu bisa disebut telah mencapai keberhasilan? Tidak, sekali lagi tidak.

Wahai anakku,

Apabila prasangkamu pun seperti mereka, celakalah engkau kelak diakhirat nanti. Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah engkau peroleh. Apalah artinya harta yang banyak tetapi kalu harta itu malah menghalang-halangimu untuk mengerjakan sholat. Apalah artinya jabatan yang tinggi, apabila tugas-tugasmu sebagai pejabat malah membuatmu tidak memiliki waktu untuk mengerjakan sholat.

Wahai anakku,

Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah engkau capai, tetapi keberhasilan harus engkau tentukan dengan kemudahanmu melaksanakan ibadah yang telah diwajibkan kepadamu oleh Tuhanmu. Di saat engkau tidak menemukan kesulitan atau tidak mendapatkan halangan dalam melaksanakan ibadah kepada Tuhanmu seperti, mengerjakan sholat fardlu, puasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji, di saat engkau mendapatkan banyak kemudahan dan kelonggaran dalam melaksanakan kewajibanmu kepada Tuhanmu, di saat itulah sebenarnya engkau telah bisa dikatakan sebagai orang yang mampu meraih keberhasilaan, bahkan tidak sekedar keberhasilan di dunia, tetapi insya’allah engkaupun telah berhasil meraih keberhasilan sampai di akhrat kelak. Amien, amien, yaa Robbal alamien. Selamat menunaikan ibadah, karena hanya untuk itulah engkau diciptakan sebagaimana firmannya di dalam Al Qur’an : “Wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liyabudun”.

Kalau Memang Hanya Engkau Yang Benar.

people-21

Wahai anakku

Mari berpikir dengan akal sehat

Mari berpikir dengan akal waras

Mari berpikir dengan hati yang jernih

Kalau memang hanya golongan sunni yang benar

Apakah golongan lain harus kita musuhi dan kita jauhi?

Padahal islam menganjurkan kepada kita

Agar selalu menyambung tali silatur rahmi

 

Wahai anakku

Kalau memang hanya golongan syi’ah yang benar

Apakah golongan lain harus kita benci dan caci maki?

Padahal islam mengajarkan kepada kita

Agar selalu tawaashou bil haqqi wa tawaashou bis shobri

 

Wahai anakku

Kalau memang hanya golonganmu yang benar

Apakah golongan lain harus kita perangi?

Padahal Allah telah mengajarkan kepada kita

Bahwa kita dijadikan berbeda agar untuk saling mengenal

 

Wahai anakku

Kalau memang hanya golonganmu yang benar

Apakah surga disediakan hanya untuk golonganmu saja?

Padahal Allah telah berfirman

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh

Baginya surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya

Itulah kebahagian yang amat besar

 

Wahai anakku

Mari berpikir dengan akal sehat

Mari berpikir dengan akal waras

Mari berpikir dengan hati yang jernih

Mari menjadi golongan orang yang beriman dan beramal sholeh.

Dosa Perselingkuhan.

Wahai anakku,

Sudah berapa kalikah engkau berbuat dosa? Sudah berapa kalikah kau khianati istrimu? Sudah berapa kalikah kau khianati suamimu? Masihkah engkau belum mau merubah jalan hidupmu yang sesat itu?

 

Wahai anakku,

Seharusnya engkau telah menyadari bahwa apa yang engkau lakukan itu bukanlah suatu perbuatan yang tidak menanggung resiko. Seharusnya engkau telah menyadari bahwa resiko yang harus engkau terima atas perbuatan yang engkau lakukan itu tidaklah ringan. Seharusnya engkau telah menyadari bahwa resiko yang harus engkau terima atas perbuatan yang engkau lakukan itu amatlah berat dan sangat menyedihkan serta memalukan. Seharusnya engkau telah menyadari bahwa resiko yang harus engkau terima atas perbuatan yang engkau lakukan itu juga akan dirasakan oleh anak-anakmu. Boleh jadi engkau memang mampu menanggung segala akibat yang terjadi atas perbuatanmu itu. Tetapi bagaimanakah dengan anak-anakmu. Apakah mereka bisa setangguh dirimu?

 

Wahai anakku,

Tuhan telah menyediakan jalan yang sangat mudah untuk kau tempuh agar engkau dan keluargamu terhindar dari bencana yang diakibatkan oleh ulahmu. Jalan itu ialah, engkau harus beristighfar dan bertobat kepadanya dan engkau berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosamu itu. Jika engkau mau menempuh jalan ini, insya’allah engkau dan seluruh keluargamu akan selamat dari bencana itu.

Jika engkau mau menempuh jalan ini, insya’allah akan engkau dapatkan kembali ketenangan dalam hatimu dan di hari-hari berikutnya engkau akan dapat menjalani hidupmu dengan tenang dan tanpa dibayang-bayangi kegelisahan lagi.

 

Wahai anakku,

Jika karena keangkuhanmu engkau tidak mau menempuh jalan yang paling mudah yang telah disediakan oleh Allah, maka Allah akan menimpakan azab yang amat pedih kepadamu. Azab itu berupa sakit yang berkepanjangan dan sulit untuk dicarikan obatnya di saat-saat menjelang akhir hayatmu. Bisa jadi sakit itu hanya berlangsung beberapa hari saja, tetapi yang sudah sering terjadi, sakit itu bisa berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Naudzubillaahi min dzalik.

 

Wahai anakku,

Karena begitu beratnya resiko yang harus engkau hadapi, jika engkau melakukan perselingkuhan, maka alangkah lebih baiknya apabila engkau tidak melakukannya. Aku hanya bisa berdo’a kepadanya saja agar engkau dijauhkan dari segala perbuatan-perbuatan maksiat dan yang semacamnya, amien.

Menabung Dan Berutang.

Wahai anakku,

Aku rasa  engkau telah mengetahui  akan arti kedua kata tersebut. Apa itu menabung dan apa itu berutang. Apabila kita bisa menabung Rp. 10.000,- setiap hari, maka dalam satu tahun tentu kita telah memiliki uang sebanyak Rp. 3.600.000,- Sebaliknya, apabilla kita berutang Rp. 10.000,- setiap hari, maka dalla waktu satu tahun kita mempunyai kewajiban untuk melunasi utang kita sebesar Rp. 3.600.000,-  Berapakah tabungan kita dan berapakah utang kita bila pekerjaan itu kita lakukan selama 50 tahun. Tentunya engkau sudah bisa menghitungnya sendiri.

 

Wahai anakku,

Apabila kita bertanya manakah yang lebih baik  antara menabung dan berutang kepada seratus orang yang semuanya memiliki kemampuan untuk menabung. Tentu mereka akan mengatakan menabung adalah lebih baik daripada berutang. Kemudian kalau kita bertanya kembali, manakah yang engkau pilh, menabung atau berutang. Merekapun tentu akan memilih menabung daripada beutang. Ini Adalah jawaban logis yang pasti akan kita dapatkan. Tetapi benarkah mereka akan konsisten dan konsekwen dengan jawabannya? Sekarang marilah kita buktikan.

 

Wahai anakku,

Orang yang gemar menabung adalah ibarat orang yang mengerjakan sholat fardlu. Setiap hari dia mengerjakan sholat fardlu sebanyak lima kali dalam sehari semalam. Dengan mengerjakan sholat fardlu lima kali sehari semalam, maka berarti dia telah mengumpulkan pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah hal itu berulang kali setiap hari sepanjang hidupnya. Sedangkan orang yang berutang adalah orang yang meninggalkan sholat fardlu. Setiap kali dia tidak mengerjakan sholat fardlu, maka seolah-olah dia telah menumpuk utang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demikianlah hal itu berulang kali setiap hari sepanjang hidupnya. Kalau memang mereka konsisten dengan jawabannya yaitu memilih menabung, mengapa mereka masih tidak mau mengerjakan sholat?

 

Wahai anakku,

Akal sehat telah menunjukkan kepada kita, bahwa orang yang gemar menabung akan merasakan kesenangan di kemudian hari, sedangkan orang yang berutang akan merasakan kesengsaraan di kemudian hari.

 

Wahai anakku,

Apabila engkau konsekwen dan konsisten dengan pilihanmu, yaitu menabung adalah lebih baik daripada berutang. Maka tidak boleh tidak, engkau harus segera mengerjakan sholat fardlu lima kali dalam sehari dan semalam mulai sekarang juga. Setiap orang mempunyai kemampuan untuk mengerjakan sholat dan untuk tidak mengerjakan sholat. Sesuai dengan plihanmu sendiri, mengerjakan sholat adalah lebih baik dari pada tidak mengerjakan sholat. Oleh karena itu, mulai hari ini, segeralah engkau melaksanakan pilihanmu itu. Jangan engkau tunda-tunda lagi, karena menunda berarti menumpuk utang dan tanpa kita sadari, tiba-tiba kita sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk membayar utang itu. Celakalah engkau apabila sampai detik ini engkau masih menundanya lagi.

Kita Dan Hewan Qurban.

Wahai anakku,

Pernahkah engkau melihat sederetan hewan qurban di masjid-masjid atau di tempat-tempat lain yang akan diselenggarakan penyembelihan hewan qurban? Kalau pernah, hikmah apakah yang bisa engkau ambil darinya? Atau memang engkau hanya melihatnya sekilas, sehingga sama sekali tidak ada hikmah yang bisa engkau peroleh darinya.

 

Wahai anakku,

Coba perhatikanlah sekali lagi dengan seksama. Tidakkah engkau melihat bahwa tidak ada kesedihan sama sekali yang nampak di wajahnya meskipun sebenarnya maut akan menjemputnya. Tidak Nampak wajah-wajah yang susah ataupun sedih, apalagi ketakutan atau histeris. Mereka masih bisa makan rumput dengan lahapnya, seolah-olah memang tidak akan ada musibah besar yang akan menimpa mereka. Padahal sesaat lagi sebilah pisau yang amat tajam akan segera menggorok leher mereka dan itupun akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang teramat tragis.

 

Wahai anakku,

Mengapa hewan qurban itu masih bisa bertingkah seperti itu? Sama sekali tidak menampakkan kesedihan dan ketakutan bahkan masih bisa makan dengan lahapnya. Semua itu karena hewan qurban itu tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa hidupnya akan berakhir pada hari itu.

 

Wahai anakku,

Sebenarnya, saat ini keadaaan kita sama dengan keadaan hewan qurban itu. Bencana yang maha dahsyat telah menghadang di depan kita. Ingatlah akan firman Allah (Tuhannya Umat Islam) di dalam kitab sucinya Al Qur’an Surat Al A’raf: 179 yang artinya: Dan sungguh, pasti Kami isi neraka jahanam itu kebanyakan dari golongan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereke memilki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Dan mereka memilki telinga tetapi tidak diergunakannya untuk mendengar aya-ayat Allah. Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Subhaanallah, Maha benar Allah dengan segala firmannya.

 

Wahai anakku,

Sudahkah kita  menyadarinya, betapa dahsyatnya bencana yang akan menimpa kita kelak di akhirat sana. Masihkah hari ini kita bisa tidur nyenyak dan makan dengan lahap, padahal bencana besar telah menunggu kita esok atau lusa, yaitu sebagai kebanyakan penghuni neraka jahanam dan kekal disana. Apabila hari ini kita masih bisa tidur dengan lelap dan makan dengan lahap, lantas apa bedanya “Kita Dan Hewan Qurban”.